You are here: Home › Seminar

Sub Menu

Life is EduAction

seminar
Pendidikan terbaik adalah pengalaman, moto ini sangat familier di telinga kita. Hanya saja sistem pendidikan di negara kita belum didasarkan pada pengalaman praktek, masih penekanan pada teoritis yang mengukur prestasi siswa dengan nilai angka, bukan prestasi pada nilai kehidupan. Sebagai contoh si Budi menjawab 10 soal dan ternyata salah 2 dengan nilai 8 atau A. Sementara si Nana hanya bisa menjawab 2 dari 10 soal dengan nilai 2 atau D.  Kita menilai bahwa Budi lebih pandai dibanding Nana, padahal cara Budi menjawab soal dengan nyontek sana-sini. Sementara Nana menjawab dengan jujur dan belajar semalaman. Hanya saja memang tidak bisa menjawab soal dan mendapatkan nilai D. Nilai siapakah yang lebih baik bagi keduanya? Lalu apa yg terjadi, Nana beranggapan bahwa cara Budi lebih baik lalu bagaimana jika Nana meniru dan melupakan cara-cara terbaik yang selama ini ia yakini?

Kita setuju bahwa "pengalaman adalah guru terbaik" dari pengalaman kita bisa belajar untuk tidak berbuat kesalahan yang sama. Namun saya lebih setuju bahwa "Pengalaman Orang Lain adalah Guru Terbaik" karena kita bisa lebih cepat dan menghindari kesalahan yang telah orang lain lakukan. Inilah pendidikan yang didasarkan atas tindakan (Action) yang telah dilakukan, atau dalam istilah baru saya menyebutnya Eduaction.

Ketika saya belajar Simulasi Produksi tahun 2004, ada pengalaman yang sangat menarik. Profesor menawarkan konsep ujian kepada mahasiswa dengan cara membentuk kelompok untuk menjawab semua soal yang ada di buku dengan waktu 3 (tiga) bulan dan dipastikan mendapat nilai C. Tawaran itu disambut antusias oleh mahasiswa, kecuali saya berdiri dan berkata "Saya tidak mau nilai C. Adakah tawaran lain untuk saya?" Sesaat suasana hening dan semua pandangan tertuju kepada saya. Kemudian mulai rame, dan Profesor merasa tertantang sambil berdiri dia mengambil kertas dan memberikan kepada saya sambil berkata
"Ini soal yang sudah saya siapkan bagi mereka yang mempelajari habis buku Simulasi Produksi. Jumlah soalnya hanya satu."
Lalu dia melanjutkan "Adakah mahasiswa lainnya yang mau mengambil cara ini?"
Semua terdiam, termasuk saya yang 'terbengong-bengong' membaca soal yang tidak saya mengerti sama sekali! Setelah jam kuliah selesai banyak teman-teman saya yang baik mengatakan 
"Sudahlah, segera temui Profesor dan minta maaf. Jawab aja soal yang ada di buku ini secara rame-rame. Kami sudah membentuk 5 team untuk menjawab masing-masing 2 bab di buku ini."
Lalu saya merasa telah mengambil jalan yang berbeda dan paling bodoh!

Sepanjang perjalanan pulang dari Kampus ke Cirebon, saya telah membaca soal itu ratusan kali dan tetap tidak mengerti pertanyaannya, apalagi jawabannya! Tidak ada pilihan lain kecuali saya harus membaca habis buku ini Bab demi Bab dan belajar sebaik-baiknya. Singkat cerita, sudah satu bulan berjalan dan saya tetap tidak bisa menjawab soal! Lalu saya berpikir 'mengapa tidak saya beli saja mesin rotary fillingnya' sehingga saya mengerti apa yang dimaksud dengan soal ini? OK DEAL! Singkat cerita saya beli mesinnya!

Dua bulan berjalan, dan saya temui Profesor sambil menyerahkan lembar jawaban. Diluar dugaan, dia mengatakan
"SALAH!!"
Wah..usaha yang tidak sia-sia! Kembali lagi ke Cirebon dan mencoba mengulang setiap tahap proses produksinya. Satu minggu berikutnya ketemu lagi di rumah Profesor, dan dia mengatakan
"SALAH!"
Hfff.. Saya harus ulangi lagi dan lebih jelas melihat proses produksinya. Satu minggu berikutnya (malam Takbiran Idul Fitri) saya sudah janji temu di rumah Profesor. Beliau dengan bangga mengatakan
"Saya tahu Anda sudah berupaya maksimal, tapi ini tetap salah!"
Lalu saya mencoba untuk menjelaskan "Begini Prof, proses ini berjalan dengan system ... bla..bla.. dst"
Saya menjelaskan seperti Dosen mengajar mahasiswa. Lalu saya menekankan "Ada proses bottle neck yang membuat hasilnya tidak sesuai dengan teori. Nah jika saya tidak salah, proses itu tidak dijelaskan dalam soal. Makanya setelah saya hitung hasilnya berbeda 0,12% per menit."
Beberapa saat Profesor terdiam... dan berkata "Hmm ya.. ya.. saya mengerti sekarang! Tapi tetap saja jawabannya SALAH!"
Saya pulang ke Cirebon dengan jawaban terakhir yang masih salah!

Wisuda sudah ditetapkan, dan BAAK (Badan Admin dan Akademis Kemahasiswaan) memberitahu bahwa nilai Simulasi Produksi saya belum juga keluar. Mau tidak mau saya harus temui Profesor di kantornya untuk meminta nilai. Hampir satu jam lebih saya menunggu dan akhirnya kesempatan itu ada. Profesor menulis di selembar kertas dan memasukkan di amplop. Sambil berkata,
"Dunia pendidikan memang hanya mempelajari dari pengalaman orang lain dan dituangkan dalam bentuk teori. Semantara Anda menjawab soal dengan mempraktekan secara langsung, ini baru bagi kami. Semoga Anda puas dengan nilai yang saya berikan." Tanpa memberi tahu berapa nilainya!
Amplop itu saya bawa ke bagian Administrasi tanpa saya buka. Beberapa saat salah seorang bagian admin teriak,
"Gila! Baru kali ini profesor ngasih nilai A++ sama mahasiswa!"

Maksud dari pengalaman ini adalah bahwa dunia pendidikan yang terbaik adalah berdasarkan pengalaman pelaku. Sebab dalam dunia bisnis sangat disarankan untuk saling mencontek untuk bisa belajar dari pengalaman orang lain. Seminar ini diselenggarakan oleh para pelaku usaha yang telah berhasil dan membuktikan bahwa mereka bisa. Lalu mereka menjadi pembimbing Anda dalam menjalankan usaha agar Anda tidak melakukan kesalahan yang sama dan bisa berhemat waktu untuk tidak mencoba-coba!