You are here: Home › Memulai-Usaha

Sub Menu

Memulai Usaha

Tahun 1993 saya menikah, saat itu usia 20 tahun, kuliah semester 4 di fakultas teknik industri jurusan teknik dan manajemen industri di perguruan tinggi swasta Jakarta. Sebagai pasangan muda, belum punya pekerjaan, dan masih minta jatah dari orang tua, tentu sangat sulit memenuhi kebutuhan hidup  ala Jakarta. Ditambah lagi tahun 1994 lahir putra pertama kami. Semakin menambah beban biaya.

 

Situasi ini memaksa saya mencari penghasilan dan memulai usaha dagang. Tapi sebagai pemula kami kebingungan mau usaha apa? Modal dari mana? Terang saja saat itu sangat sulit mencari peluang usaha dengan modal dengkul.

 

Kami tinggal di komplek perumahan dengan kesibukan warga dengan berbagai aktifitas pekerjaan kantoran, pengusaha, dan pegawai negeri. Setiap pagi lalu-lalang di komplek kami sangat ramai, ditambah ibu-ibu komplek yang sibuk membeli sayuran di pedagang sayuran keliling.

 

Suatu hari saya menemani istri membeli bahan-bahan masakan di pedagang sayur keliling dan menemukan beberapa jenis sayuran yang sudah tidak segar lagi.

"Kenapa sayurannya jelek sih bu?”

"Ya dari sananya pak” jawab beliau. "Saya ambil di langganan saya di pasar. Kalo di sananya jelek-jelek yang saya gak bisa milih.” Jelas beliau.

"Hmm.. Yang ngambil di langganan ibu banyak?”

"Waah ya banyak pak. Kami dan temen-temen ada 50 orang yang ngambil barang ke dia. Kalo ndak habis ya gak bisa dibalikin. Itu sih sudah resiko saya.” Keluhnya.

 

Aha.. tiba-tiba muncul ide. Malam hari menjelang subuh saya pergi ke pasar dan melihat bagaimana transaksi di sana. Keraguan dan ketakutan bercampur aduk dengan keinginan dan tekad untuk menafkahi dan memuliakan keluarga. Hasilnya adalah NEKAT untuk memulai meskipun tanpa pengalaman.

 

Singkat kisah, saya menjadi pedagang sayur di pasar. Modalnya memang hanya modal dengkul. Saya ikut rebutan sayuran saat supplier dari Bogor datang ke pasar. Lapak yang saya buka tidak ada tenda, hanya meja yang cukup besar dari bambu yang berisi barang dagangan. Setiap malam menjelang subuh saya temui calon-calon pembeli yang sebagian besar adalah ibu-ibu pedagang sayuran keliling. Alhamdulillah, ramai transaksinya. Selepas sholat subuh saya nyetor ke supplier. So, bener-bener modal dengkul!

 

Sore hari saya kunjungi rumah-rumah di kompleks sambil menyodorkan list daftar barang-barang kebutuhan sehari-hari. Mereka bisa memilih barang-barang yang bakal saya kirim keesokan harinya. Kelebihannya adalah mereka tidak harus meninggalkan rumah dan tentu bisa lebih menghemat ongkos. Bukannya saya punya kios, melainkan saya negosiasi sama agen-agen di pasar untuk menjadi kurir pengiriman dengan selisih harga menjadi keuntungan saya. Sekali lagi modal saya hanya kepercayaan. Dan Alhamdulillah, dalam beberapa bulan kami bisa merasakan hasilnya.

 

Jika modal hanya berkisar UANG maka ini bisa menjadi kendala bagi mereka yang baru mau memulai usaha. Berdasarkan pengalaman ini, saya justru memulai usaha hanya bermodalkan kepercayaan.

 

Bagi sahabat-sahabat yang masih bingung memulai usaha, cobalah untuk memulai merubah sudut pandang, bahwa orang yang berhasil dalam dunia usaha adalah mereka yang bisa melayani dan memenuhi kebutuhan orang lain.