You are here: Home › artikel
  • DemeXeMuse says:02 Nov 2013
    nyasar kisini gara2 ini: http://htwins.net/scale2/ , pas liat sampe ukuran terkecil…
    Apa itu Quantum?
  • eko budhi says:27 Sep 2013
    Waaah kajiannya luar biasa bang.. memperkuat informasi tentang quantum ikhlas..…
    Energi Otak Manusia
  • Raudha says:28 Jul 2012
    Ajiibb bang !! like this notes
    Energi Otak Manusia
  • banghaq says:13 Apr 2012
    Dana yang ada di Kemenag dijadikan sukuk (sejenis obligasi) tapi dengan margin yang…
    Menjadi Pengusaha itu Mulia
  • miska says:14 Mar 2012
    dana haji yang di kemenag digulirkan kemana, Bang? makasih
    Menjadi Pengusaha itu Mulia

Sabar VS Malas

0 Fri 04, July 2014 in Inspirasi by banghaq

Jangan bersembunyi dibalik kata "sabar” padahal sebenarnya adalah "malas” dan suka menunda-nunda. Orang sabar justru "rajin” menata diri dan memanfaatkan waktu, sehingga tidak sempat mengeluh berlama-lama dan membuang-buang waktu dengan keluhannya.

Setiap kejadian selalu bisa diambil hikmahnya, kemudian ia menemukan kebaikan dan bersyukur telah dijadikan "faham” kesalahannya.

"Orang yang sering menunda-nunda berbuat kebaikan adalah pemalas, bukan penyabar.

Orang yang tidak mau merusak kebaikannya adalah penyabar, bukan penakut!"

Dalam dunia industri terdapat istilah "Countinous Improvement” bagi perusahaan yang berkomitmen terhadap perbaikan kualitas secara berkesinambungan. Saya lebih suka memaknai sabar seperti itu, yaitu sebuah prinsip yang menyatakan bahwa upaya dalam membangun kualitas kerja akan membentuk hasil yang berkualitas. Jika kita menuntut kebaikan hasil maka langkah yang harus dilakukan adalah memperbaiki prosesnya.

Lalu seberapa banyak diantara kita yang bersembunyi dibalik kata "SABAR” untuk membenarkan ketiadaan upaya perbaikan? So, mulailah mendefinisikan sabar sebagai upaya yang bisa membuat kualitas kehidupan menjadi lebih baik. Itulah sebabnya Tuhan telah menetapkan, "Jadikanlah SABAR dan SHALAT sebagai penolongmu!”, yaitu memiliki makna sabar dalam upaya realisasi, dan Shalat sebagai "doa” ketika kita menemui ketidakmampuan dalam pengupayaan. Nah, jika ini dilakukan dengan benar, niscaya Tuhan akan menolong kita dengan segala kesewenanganNya.

Sabar dalam pengupayaan bermakna bahwa kita harus bisa melakukan dengan cara-cara yang benar. Sedemikian berarti kita harus ikhlas merubah cara-cara yang terbukti tidak menghantarkan kita kepada perbaikan kualitas kehidupan. Tidak sedikit diantara kita yang hanya bersabar tanpa ikhlas mau merubah cara-caranya.


Hampir tengah malam kami berkumpul di teras depan kantor seusai rapih-rapih untuk persiapan buka kantor esok. Melintas di jalan seseorang yang sudah tua sambil mendorong gerobak sekoteng dagangannya. Lalu kami memesan dan terjadilah percakapan ringan,

"Berapa lama pak jualan sekoteng?” tanyaku kepada pak tua.

"Wuaah sudah lama sekali dek..!” jawabnya bangga,"Sejak usia saya 15 tahun.. hehehe..” sambil tertawa kecil dan meletakan semangkuk sekoteng di meja teras kantor.

"Emang sekarang usia bapak berapa?” tanyaku

"75 tahun! Masih gagah kan..?” canda beliau

"Subhanallah.. 60 tahun jualan sekoteng berarti dah kaya dong pak..hehe..” seorang temanku ikut bicara.

Sejenak pak tua terdiam, lalu berkata, "Lah.. usaha beginian ya hasilnya hanya cukup buat makan saja dek.”

Terlintas dalam benak, bahwa sesungguhnya beliau berdagang sekoteng bukan selama 60 tahun, melainkan hanya satu hari dan diulang-ulang terus selama 60 tahun tanpa upaya perubahan cara-caranya.

Kisah lainnya, sudah 12 tahun saya tak pernah ketemu lagi dengan teman sekantor dulu, selepas saya memutuskan untuk keluar dari pekerjaan yang sama-sama kami lakukan dahulu. Rentan waktu yang demikian lama meninggalkan kesan mendalam saat bertemu dengan keadaan ekonomi yang jauh berbeda dibanding apa yang telah saya rasakan saat ini. Ada sesuatu yang tidak berubah pada dirinya, yaitu masih menjadi karyawan di perusahaan dahulu dengan posisi dan jabatan yang sama seperti dulu.

Selama 12 tahun ini dia memilih untuk tetap bekerja yang dianggapnya memiliki "jaminan” penghasilan. Dan selama itupula ia "bersabar” menerima penghasilan yang kurang dari cukup untuk menghidupi istri dan ketiga anaknya. Ketika saya bertanya mengapa ia memilih untuk tetap melakukan hal yang sama padahal jelas-jelas tidak memberikannya penghidupan yang lebih baik, dia mengatakan, "Ini sudah menjadi nasib, saya harus bersabar menjalaninya..”

Mendengar itu saya tergelitik untuk angkat bicara, "Mas, saya dahulu keluar dari pekerjaan untuk menemukan nasib dan takdir saya yang lebih baik. Selama beberapa bulan saya mengalami kehidupan yang jauh lebih sulit dibanding kehidupan Mas hari ini loh. Saya tidak mau "bersabar” mendengar anak-anak menangis karena malu tidak bisa bayar sekolah. Saya lebih memilih untuk "bersabar” dalam mencari usaha yang bisa membahagiakan dan menenangkan perasaan istri dan anak-anak. Hingga kesabaran itu memberikan jalan usaha yang sampai saat ini bisa memberikan nafkah tidak hanya untuk pribadi, namun bagi ribuan keluarga lainnya. Bukankah kita diberikan kewenangan untuk merubah diri?”

"Tapi nasib dan rejeki kan urusan Tuhan..” Ia memberikan sanggahan

"Benar, itu sangat benar. Rejeki adalah pemberian Tuhan. Tugas kita adalah memantaskan diri menjadi orang yang layak berejeki baik. Jika kita telaah dalam ketetapan-Nya, bahwa ‘Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka masing-masing’ ini berarti bahwa Tuhan akan merubah nasib jika mereka mau merubah diri masing-masing kan? Kewenangan merubah nasib tetap menjadi milik Tuhan, dan tidak akan berubah sampai kapanpun. Nah tugas dan kewajiban kita adalah merubah kebiasaan untuk menjadi pribadi yang pantas menerima rejeki banyak dari Tuhan!”

Beberapa saat suasana hening.

"Terus apa yang mesti kulakukan? Apa saya juga harus keluar dari pekerjaan yang saat ini?” Pertanyaan itu meluncur dari hatinya yang sedang bingung.

"Ooh saya tidak mengatakan itu, sebenarnya Mas bisa tetap dalam pekerjaan saat ini, namun cobalah untuk lebih bersabar dalam membentuk nilai diri dan memiliki prestasi sehingga perusahaanlah yang membutuhkan Mas dan pada gilirannya Mas layak untuk minta dibayar mahal!” Sambil minum teh yang ada di meja, saya melanjutkan memberikan pemahaman, "Gaji Mas dari perusahaan adalah rejeki yang Tuhan berikan, dan berusahalah untuk menjadi karyawan yang pantas dibayar lebih besar lagi. Nah itu adalah tugas Mas untuk merubah kebiasaan dalam bekerja sehingga menjadi lebih baik dari apa yang telah dilakukan selama ini. Insya Allah perusahaan akan melihat prestasi Mas dan memandang bahwa Mas layak diberikan tugas dan tanggungjawab lebih besar lagi. Loh, bukankah rejeki selalu berpihak kepada mereka yang memiliki tanggungjawab besar? Ayolah.. saya yakin Mas bisa!”

Satu tahun setelah itu kami bertemu lagi secara tidak disengaja di area parkir mobil di mall –saat itulah saya terinspirasi untuk menuliskannya dalam buku ini, lalu ia mengatakan bahwa saat ini ia dipercaya sebagai kepala cabang perusahaan dengan prestasi penjualan terbaik.

So.. Jangan salahkan Tuhan atas rejeki yang kita terima. Terkadang kita sendiri yang memang belum pantas diberikan rejeki besar. Kebiasaan malas, suka menunda-nunda, dan terlalu mudah mengatakan "sulit” adalah bibit dari sulitnya berejeki baik.
Last Modified: Fri 04, July 2014
  • Visits: 801
  • (Current Rating 0.0/5 Stars) Total Votes: 0
  • 0 0

No Comments Yet...

Leave a reply


Contact Information

  • E-mail: info@banghaq.com
  • Address: Jl. Pangeran Arya Salingsingan - Blok Sidapurna No. 7
    Ds. Kasugengan Kidul Kec. Depok - Cirebon 45155