You are here: Home › artikel
  • DemeXeMuse says:02 Nov 2013
    nyasar kisini gara2 ini: http://htwins.net/scale2/ , pas liat sampe ukuran terkecil…
    Apa itu Quantum?
  • eko budhi says:27 Sep 2013
    Waaah kajiannya luar biasa bang.. memperkuat informasi tentang quantum ikhlas..…
    Energi Otak Manusia
  • Raudha says:28 Jul 2012
    Ajiibb bang !! like this notes
    Energi Otak Manusia
  • banghaq says:13 Apr 2012
    Dana yang ada di Kemenag dijadikan sukuk (sejenis obligasi) tapi dengan margin yang…
    Menjadi Pengusaha itu Mulia
  • miska says:14 Mar 2012
    dana haji yang di kemenag digulirkan kemana, Bang? makasih
    Menjadi Pengusaha itu Mulia

Sabar itu Merubah Takut Menjadi Berani

0 Fri 04, July 2014 in Motivasi by banghaq

Orang yang berani mengakui kekurangan dan kelemahannya adalah orang kuat dan penyabar, sebab tidak mudah bisa mengakui kekurangan yang ada pada diri sendiri. Di sinilah letak keunikan seseorang yang penyabar, yaitu semakin sadar akan kekurangannya justru lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan Yang Maha Sempurna. Sehingga dalam kekurangan dan kelemahannya mereka tetap mau bertindak karena meyakini ada pertolongan Tuhan, seraya berdoa "Ya Tuhanku, betapa kecil kemampuanku, namun harapanku begitu besar. Maka aku lakukan apa yang bisa kulakukan, selebihnya tentang apa yang tidak bisa kulakukan adalah urusanMu..”

Keterbatasan kemampuan bukan menjadi penghalang untuk mencapai tempat-tempat kemuliaan. Itulah sebabnya Tuhan memberikan kekuatan bagi mereka para penyabar, "Jika ada seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus musuh!” So, bisa kita bayangkan jika ada orang yang berilmu, bijak, jujur dan menjunjung nilai-nilai kebenaran lantas mereka juga penyabar.. sungguh nilai mereka sepuluh kali lebih kuat dibanding orang berkuasa yang merusak.

Kesalahan yang sering terjadi pada diri kita adalah terlalu mudah berprasangka buruk terhadap sesuatu yang belum jelas. Ada orang yang berbuat baik, curiga! Melihat orang berprestasi, curiga! Bahkan jika ada teman yang terkena musibah, berprasangka! Sungguh kondisi seperti ini sangat kental di masyarakat kita, So.. tidak mengherankan jika "kita” belum dianggap pantas menjadi masyarakat yang layak dimakmurkan dengankekayaan sumber alam milik bangsa ini.


Yuk, mulai saat ini kita lebih bijak untuk "mau mendengar” lebih banyak daripada membicarakan sesuatu yang belum kita ketahui kebenarannya dan bisa berujung pada tindakan fitnah.

Berprasangka buruk terhadap masa depan yang belum jelas akan berdampak "pengiraan” kecilnya kemampuan dan berujung pada sikap "pesimis”. Semestinya kita lebih bisa bersabar dengan upaya dan perbaikan kualitas diri pada masa sekarang. Pribadi penyabar akan menuntut diri dengan :

>Belajar lebih banyak,

>Menabung lebih sering,

>Memprioritaskan kegiatan penting bukan yang mendesak,

>Mengatur waktu lebih produktif,

>dan semua hal persiapan lainnya yang bisa "menyebabkan” kebaikan bagi masa depannya!


Seorang penyabar memahami bahwa prasangka baiknya akan mendatangkan kebaikan. Mengeluhkan sesuatu hanya membuang-buang waktu dan memberi makan kekuatan ‘Pesimis’.

Terkadang kita salah mengartikan "Tahu Diri”. Hampir umum menganggap bahwa ‘tahu diri’ adalah mengukur diri terhadap tujuan yang akan dicapai. Pemahaman ini membuat kita tidak berani memiliki rencana besar atau memiliki impian tinggi, lalu bersembunyi dibalik kata "tahu diri” untuk membenarkan sikapnya yang pesimis.

Ketakutannya yang terbesar adalah kegagalan yang akan membuatnya malu. So, akhirnya mereka memutuskan untuk lebih "Tahu Diri” daripada nanti "Memalukan”. Padahal logika sederhananya adalah” Kalaupun malu karena gagal, toh gagalnya kan nanti setalah kita berupaya! Lalu mengapa malunya kok sekarang? Di saat upaya terburuk saja belum dilakukan!Aneh kan ??

Para penyabar yang pemberani juga memiliki ketakutan, khawatir, dan keraguan. Itu adalah sangat wajar dan manusiawi. Namun dalam ketakutannya mereka tetap melakukan apa yang mereka takutkan!

Pemberani adalah penakut yang berani melakukan.
Penakut adalah Pemberani yang takut melakukan.

Jika kita melakukan apa yang berani dilakukan, jelas itu bukan pemberani. Itu sangat wajar dan biasa saja. Nah berbeda jika kita melakukan apa yang ditakuti, itulah yang disebut pemberani. Apakah berani melawan anak kecil bisa disebut berani? Ngaco aja kali..

Demikian juga apabila kita takut terhadap sesuatu yang layak ditakuti, jelas itu bukan penakut. Itu juga sesuatu yang wajar dan biasa. Tetapi jika kita takut melakukan apa yang semestinya bisa dilakukan, itulah penakut!

Lalu jika demikian apa yang menjadi ukuran bahwa sesuatu itu layak kita takuti atau tidak perlu ditakuti? Inilah poin dari "Tahu Diri”, yaitu mengukur kemampuan diri yang sebenarnya.

Para penyabar yang tahu diri akan memiliki keberanian dan kekuatan yang tidak berasal dari dalam dirinya. Mereka larut dalam "Keberserahan” kepada Tuhan Yang Maha Berani dan Maha Kuat yang selalu bersama mereka –Sesungguhnya Tuhan bersama orang-orang yang sabar. Mereka tahu diri akan kekurangan dan kelemahannya, karena memang demikian adanya bahwa manusia memeliki keterbatasan. Namun lagi-lagi para penyabar justru memanfaatkan kelemahan dan ketakutannya sebagai kekuatan dan keberanian –Karena ada Tuhan.

Ambil contoh jika Anda diminta untuk menyediakan uang 10 juta dalam waktu 24 jam tanpa alasan yang mendasar, saya bisa pastikan bahwa Anda akan melakukannya asal-asalan saja, "Dapet syukur, nggak dapet ya udah gak papa..”. Namun sangat berbeda jika Anda melakukannya karena "takut” kehilangan orang yang Anda sayangi yang harus segera dioperasi di RS dan Anda harus menyediakan uang 10 juta dalam waktu 12 jam. Jika tidak, maka nyawanya tidak akan tertolong. Apakah Anda melakukannya biasa-biasa saja? –Kecuali memang uang segitu gak masalah- atau Anda akan "ngotot” untuk berusaha mendapatkannya?

Intinya adalah bahwa para penyabar tidak akan berputus asa dari berharap kepada Tuhan Yang Maha Pengasih. Mereka yakin bakalan ada yang mau "ngasih” –Meskipun ngasih utang- jika mau berupaya. Itulah yang dimaksud ketakutannya memberikan keberanian untuk bertindak, itulah Pemberani!

Nah bagi mereka yang takut gagal mendapatkan uang tersebut, atau malu jika gagal, lantas bilang sama dokter, "Sudahlah dok, saya bawa pulang saja anak saya..” ini yang saya sebut Penakut!

Jadi jika demikian maka ukuran ketakutan yang layak Anda takuti adalah yang bisa memberikan Anda keberanian dan kekuatan. Misalnya macan, nah itu wajar jika Anda takuti. Nggak percaya? Lepasin aja dari kandangnya, tentu Anda akan lari sekuat-kuatnya. Bahkan Anda akan berani melompati jurang sekalipun. Dalam keadaan seperti itu Anda akan terheran-herandengan kemampuan Anda yang luar biasa. Itulah yang saya sebut "Ditenagai Tuhan.”

Yups, sekarang cobalah untuk "tahu diri” –Evaluasi Diri- bahwa contoh yang sakit di atas bukan anak Anda melainkan kondisi keuangan. Dan yang mengejar Anda bukan macan melainkan hutang. Maukah Anda berupaya dengan bersungguh-sungguh dan bersabar untuk terus bergerak?
Last Modified: -/-
  • Visits: 933
  • (Current Rating 5.0/5 Stars) Total Votes: 1
  • 0 1

No Comments Yet...

Leave a reply


Contact Information

  • E-mail: info@banghaq.com
  • Address: Jl. Pangeran Arya Salingsingan - Blok Sidapurna No. 7
    Ds. Kasugengan Kidul Kec. Depok - Cirebon 45155